Senin, 26 Januari 2009

PANDANGAN ORIENTALIS TENTANG MUHAMMAD

PENDAHULUAN
Perusakan aqidah dan syari’ah (ajaran Islam) merupakan bahaya yang harus diwaspadai. Bila perusakan itu sudah berhasil, maka kita akan menjadi orang yang terombang-ambing dalam beragama Islam, bahkan merusak sama sekali. Usaha perusakan itu sudah lama dilakukan orang, yaitu sejak lahirnya risalah Islam itu sendiri. Saat ini usaha-usaha seperti itu makin bervariasi, sejalan dengan perkembangan zaman dan cara berfikir manusia.
Pada zaman dahulu musuh-musuh nabi Muhammad melontarkan tuduhan terhadap beliau dan risalahnya menggunakan argumentasi yang berbeda dengan kondisi sekarang. Di saat itu masih ada nabi yang menjadi sumber utama untuk bertanya. Namun manusia zaman sekarang tidak mempunyai sumber otentik yang mudah ditanyai. Ia harus mencari argumentasi sendiri yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah untuk memberikan keterangan yang dapat diterima orang.
Banyak ragam tuduhan yang dilontarkan orang-orang memusuhi Islam, antara lain menuduh Al-Qur’an sebagai karangan Nabi Muhammad. Dalam mengarang Al-Qur’an periode Madinah, Nabi dipengaruhi oleh orang-orang Yahudi, dan masih banyak lagi tuduhan orang-orang yang senang terhadap Islam dan Nabi Muhammad.
Kajian para Orientalis terhadap Nabi Muhammad Saw. terbagi kepada beberapa aspek, ada yang meneliti karakter dan kepribadian, ide, serta visi misi Nabi Muhammad Saw., seperti yang telah dilakukan oleh para tokoh Orientalis Fr. Buhll, Henri Lammens, G. W. Bromfield, dan Richard Bell.
Ada juga kajian yang meneliti kasus, seperti mengenai ke-ummi-an Nabi Muhammad SAW yang dilakukan oleh tokoh Orientalis S. M. Zwemer, H. G. Reissner, Isaiah Goldfeld, Norman Calder, dan Khalil `Athamina BirZeit.

PEMBAHASAN
A. Pandangan Orientalis Terhadap Nabi Muhammad SAW
Peter, pendeta di Maimuma, menyebut Nabi Muhammad Saw sebagai Nabi palsu. Yahya ad-Dimasyqi atau dikenal juga sebagai John of Damascus (750 M) juga menulis dalam bahasa Yunani kuno kepada kalangan Kristen Ortodoks bahwa Islam mengajarkan anti-Kristus. John of Damascus berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang penipu kepada orang Arab yang bodoh. Dengan liciknya, dia mengatakan bahwa:
`Muhammad bisa mengawini Khadijah sehingga mendapat kekayaan dan kesenangan. Dengan cerdasnya, Muhammad menyembunyikan penyakit epilepsinya ketika menerima wahyu dari Jibril. Muhammad memiliki hobi perang karena nafsu seksnya tidak tersalurkan.'[1]
Senada dengan John of Damascus, Pastor Bede dari Inggris yang hidup pada tahun 673-735 M berpendapat bahwa Nabi Muhammad Saw adalah seorang manusia padang pasir yang liar (a wild man of desert). Bede menggambarkan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang yang kasar, cinta perang dan biadab, buta huruf, status sosial yang rendah, bodoh tentang dogma Kristen, dan tamak kuasa. Sehingga ia menjadi penguasa dan mengklaim sebagai seorang Nabi.
Pada zaman pertengahan Barat, sikap menghina Nabi Muhammad Saw terus berlanjut. Namun dengan pendekatan yang lebih lunak. Pada saat itu, Nabi Muhammad Saw disebut sebagai Mahound, atau juga Mahoun, Mahon, Mahomet, dan Machmet, yang sinonim dengan setan dan berhala di dalam bahasa Prancis dan Jerman. Jadi, Nabi Muhammad Saw bukan hanya dianggap sebagai seorang Nabi palsu, bahkan lebih dari itu, Nabi Muhammad Saw merupakan seorang penyembah berhala yang disembah oleh orang Arab yang bodoh.[2]
Pada era Renaissance (zaman kelahiran kembali) Barat dan zaman Reformasi Barat, imej buruk terus berlanjut. Marlowes Tamburlaine menuduh al-Quran sebagai karya setan. Lebih parah lagi, Martin Luther menganggap Nabi Muhammad Saw sebagai orang jahat dan mengutuknya sebagai anak setan. Pada zaman pencerahan Barat, Voltaire menganggap Nabi Muhammad SAW sebagai fanatik, ekstremis, dan pendusta yang paling canggih. Biografi Nabi Muhammad Saw beserta al-Qur’an terus menjadi sasaran.
Klimovich, yang menulis sebuah artikel diterbitkan pada tahun 1930 dengan berjudul `Did Muhammad Exist?'. Dalam artikel tersebut, Klimovich menyimpulkan bahwa semua sumber informasi tentang kehidupan Nabi Muhammad Saw adalah dibuat-buat. Nabi Muhammad Saw adalah fiksi yang wajib karena selalu adanya asumsi bahwa setiap agama harus mepunyai pendiri. Sikap para Orientalis seperti itu tidak bisa disederhanakan kategorisasinya menjadi Orientalis klasik yang berbeda dengan Orientalis kontemporer.[3]
Kemudian gerakan ini dilanjutkan oleh Orientalis kontenporer yang tetap mengusung gagasan Orientalis klasik sekalipun dengan kadar, level, cara dan strategi yang berbeda. Intinya sama saja yaitu mengingkari kenabian Nabi Muhammad Saw dan kebenaran al-Qur’an. Penolakan seperti itu adalah `loci communes' (common places) dalam pemikiran para Orientalis. Ini bisa dimengerti karena eksistensi agama mereka tergugat dengan munculnya Islam. Karena hal ini juga, wajar jika kajian mereka kepada Nabi Muhammad Saw dan al-Quran tidak dibangun dari keimanan, sebagaimana sikap seorang Muslim.
Para Orientalis beranggapan bahwa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW sebenarnya merupakan sebuah hasil dari pengadopsian dari berbagai tradisi Yahudi, Kristen, dan Persia. Begitu juga dalam artikel J. Bryan, yang sedikit menceritakan bagaimana proses Nabi Muhammad SAW mendapatkan wahyunya:
`Mohammad dalam tahun-tahun awal, memiliki kesamaan dengan para pedagang Mekah, akrab dengan ajaran adat yang melingkupi berbagai doktrin yang diajarkan oleh tokoh Ibrani, sebuah bangsa yang baik, dalam bentuk yang tidak jelas dan membingungkan. Ia telah mempelajari sebagian hal ini dalam kabilah dagangnya yang ke Suriah, dan dalam beberapa kunjungannya ke pertemuan-pertemuan syair, nenek moyang Welsh Eisteddfod, yang diadakan secara rutin di Okadh dan kota-kota lainnya, di mana masalah-masalah keagamaan dibicarakan secara terbuka. Ia mendapatkan pengetahuan yang lebih jelas dan dalam dari kaum Hanif, sebuah lembaga kecil yang beranggotakan para pencari kebenaran, warga Mekah, dan para pelajar tentang Judaisme dan Kristen yang tekun. Ia karenanya terbina untuk menolak pemberhalaan dan menerima formula monoteistik yaitu formula La Ilaaha Illallah… Banyak ayat Mekah di dalam al-Quran ditasbihkan kepada kisah Nabi, diambil dari sumber-sumber Ibrani'.[4]
Lain lagi dengan teori prasangka yang dibangun oleh Henri Lammens yang mengatakan bahwa: `Mohammad memandang dirinya sebagai seorang Nabi suci, ia hanya diutus untuk menjadi Nabi bangsa arab, tapi para muridnyalah yang menjadikannya penuntun agung seluruh manusia.
Antara lain konsekuensi pendekatan historicity yang mereduksi fakta, adalah seperti yang terjadi pada sirah tentang surat perjanjian pemboikotan atas Nabi Saw oleh kaum Quraisy yang dimakan rayap dan tersisa hanya tulisan Bismillah. Semaklah komentar Sprenger berikut:
`Keadaan ini (surat perjanjian yang dimakan rayap) telah dibesar-besarkan sebagai suatu nukjizat, tapi bagi mereka yang pernah tinggal di iklim tropis akan menganggapnya bukan hal yang luar biasa.'[5]
Misalnya lagi komentar Orientalis terhadap karir keberhasilan Nabi Muhammad Saw dalam misinya menyiarkan syi'ar. Bagi Voltaire dalam karyanya, `essai surles mœurs' dan `Mahomet', keberhasilannya karena didorong oleh faktor ambisi dan komunitasnya, dan bukan karena faktor elemen-elemen agama.
Sementara itu, Washington Irving mengomentari keberhasilan dakwah Nabi Muhammad Saw itu disebabkan oleh mimpi dan monomania. Begitu juga dengan kesimpulan Crawford H. Toy yang mengatakan:
`Hal itu dikarenakan gugup oleh kegembiraannya karena dia memiliki pandangan-pandangan yang tidak bisa dibedakannya dengan kejadian-kejadian nyata.'[6]
Komentar itu diberikan Toy atas turunnya Surah al-Lahab di mana Nabi Muhammad SAW berinteraksi dengan salah satu pamannya Abu Lahab. Bagi Toy, Surah al-Lahab adalah merupakan sebuah ekspresi kebencian yang bersifat pribadi yang seterusnya menjadi religious hatred. Sedangkan Torrel membangunkan teori khayalan, dengan menganggap adanya timbal balik antara pengalaman keberagamaan Nabi Muhammad Saw dengan pernikahannya dengan Siti Khadijah yang lebih tua. Worrel mengatakan:
`Muhammad telah mengembangkan bakat puisi dan kenabian pada tahun-tahun akhir pernikahannya dengan Khadijah, dan kehilangan kedua bakat ini selama tiga belas tahun dimasa banyak pernikahannya yang lain.'[7]
Selain itu, para orientalis menuding bahwa poligami nabi Muhammad sebagai bukti bahwa libidonya sangat tinggi. Seandainya beliau seorang nabi, niscaya akan disibukkan oleh urusan dan tugas kenabiannya dari pada sibuk dengan wanita.
Dengan alasan inilah, A. L. Tibawy secara khusus menulis dengan sangat terperinci sebagai ungkapan kritik terhadap sikap para sarjana Orientalis yang apriori, berprasangka, dan tidak objektif dalam studi Islam ataupun studi sirah Nabi Muhammad Saw.
B. Kesaksian Orientalis yang Sadar
Begitu pedas dan tidak terperi hujatan dari kaum orientalis tentang nabu Muhammad. Hal yang semacam itu merupakan ujian dan sekaligus sebagai bukti bahwa Islam sangat diperhitungkan oleh agama lain sehingga mereka berlomba-lomba untuk menghancurkannya.
Namun tidak semua orientalis tersebut yang tidak tergugah hatinya dengan keagungan Islam. Thomas Carlyle memberikan pernyataan secara terbuka tentang Nabi Muhammad Saw. Dia menyatakan bahwa “adalah aib yang besar bagi budayawan manapun, jika ia condong kepada anggapan bahwa agama Islam dituduh sebagai suatu kebohongan, dan Muhammad sebagai penipu dan pendusta. Sudah tiba waktunya kita memerangi perkataan palsu yang memalukan yang sudah disebar-luaskan orang, karena risalah yang disampaikan rasul merupakan pelita bagi umat manusia”.[8]
Carlyle menyesalkan kebohongan yang mungkar terhadap Islam dan rasulnya, dan menganggap penuduhnya sebagai orang yang lemah dan kurang akal. Dia merasa heran terhadap kemungkaran semacam itu, dan dibuatnya perumpamaan dan tidak masuk akal.
Keyakinan Carlyle akan kebenaran Nabi Muhammad Saw. ini didasarkan atas pandangannya bahwa sebagai seorang yang besar mustahil untuk jadi pendusta. Kejujuran merupakan asas keutamaan dan keterpujian di sisinya. Ia memperkuat keyakinan akan kebenaran rasul dengan pengetahuannya tentang sejarah Rasulullah Saw. yang sejak masa kecil diberi gelar Al-Amien (orang yang terpercaya). Perkataan, perbuatan dan pemikirannya selalu tepat. Tidak ada satu pun kalimat yang keluar dari mulut beliau malainkan pasti mengandung hikmah yang tinggi.
Adapun tuduhan orang mengenai syahwat Nabi Muhammad, maka Loria Valeri memandang tuduhan semacam itu sebagai perbuatan aniaya dan dhalim. Sebab perkara Nabi Muhammad berkenaan dengan istri-istrinya yang suci itu, bukanlah dorongan nafsu dirinya sendiri dan itu pun dalam ikatan dan batas-batas yang telah ditentukan.
Dalam menjawab tuduhan terhadap Nabi Muhammad, Valeri mengatakan dengan lantang dan argumentatif: “Muhammad bukanlah bukan orang yang bersyahwat tinggi (hypersex) sebagaimana dituduhkan orang secara dlalim dan penuh permusuhan. Beliau adalah orang zuhud, tiada menyukai kesenangan duniawi”. [9]
Demikianlah Allah menjadikan Thomas Carlyle dan Loria Valeri – pemikir yang sadar – sebagai pembela terhadap agama Islam dan Nabinya dengan pembelaan yang mulia dan terpuji. Selian Carlyle dan Valeri masih banyak lagi orientalis-orientalis yang telah sadar dengan apa yang mereka perbuat sebelumnya, dan banyak diantara mereka yang memeluk agama Islam
PENUTUP
- Kesimpulan
Dari pemaparan di atas, maka dapatlah diringkaskan bahwa sesungguhnya para Orientalis akan terus menerus mengomentari dan melontarkan berbagai pandangan mereka perihal Nabi Muhammad SAW, baik secara konstruktif, lebih jauh lagi secara destruktif.
Semulia apapun kedudukan Nabi Muhammad Saw di mata kaum Muslimin dan para penjunjung yang lain, tetap tidak akan mengubah pandangan para Orientalis terhadap beliau. Faktor ini bukanlah disebabkan oleh kelemahan Nabi Muhammad Saw sebagai seorang manusia biasa sekaligus utusan Tuhan Yang Maha Esa yang selalu dimuliakan di mana-mana, tetapi dikarenakan oleh sikap mereka sendiri yang apriori, berprasangka, dan tidak objektif terhadap Nabi Muhammad Saw.
Keadaan ini akan terus berlanjutan sehingga ke akhir hayat dunia ini menemui waktu penghabisannya. Begitulah nasib para Orientalis dari satu generasi kepada generasi yang lain, di mana mereka akan terus mewarisi kejahilan dan kegelapan, serta akan terus meraih kerancuan berfikir dan tenggelam di dalam kesombongan.
- Saran-saran
Sebarapa besar bagaimana pun hujatan yang dilancarkan oleh para orientalis, seyogyanya tidak menyurutkan kadar keimanan kita sebagai muslim yang pastinya meyakini bahwa Islam merupakan agama yang paling benar. Justru kita harus semakin giat untuk mengembangkan wawasan keagamaan, sehingga kita bisa mengkonter apa yang kemudian diwacanakan oleh para orientalis.
Seiring dengan perkembangan jaman maka varian metode dan kajian mereka akan semakin berkembang pula. Maka dari itu, sebagai kader penerus yang memegang tongkat estafet pengemban tugas kejayaan Islam, maka sudah merupakan kewajiban kita untuk mengatasi upaya-upaya yang akan terus-menerus melakukan serangan terhadap Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Badawi, Abdurrahman, Ensklopedi Tokoh Orientalis, Yokyakarta: LKiS, 2003.
Basir, Muhammad, Pandangan Kaum Orientalis Terhadap Islam, Yokyakarta: Bentang, 2003.
Jamal, Ahmad Muhammad, Membuka Tabir; Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam, Bandung: CV. Diponogoro, 1991.
Nasir, Malki Ahmad, Orientalis dan Sirah Nabi Muhammad SAW; Sketsa Awal, Islamia: Kerancuan Orientalis dalam Kajian Islam, Jakarta: Khairul Bayan, 2006.


[1] Ahmad Muhammad Jamal, Membuka Tabir; Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam. (Bandung: CV. Diponogoro, 1991). hlm. 309
[2] Ibid. hlm. 309
[3] Muhammad Basir, Pandangan Kaum Orientalis Terhadap Islam, (Yokyakarta: Bentang, 2003) hlm. 197
[4] Muhammad Basir, Pandangan Kaum Orientalis Terhadap Islam, (Yokyakarta: Bentang, 2003) hlm. 211
[5] Ibid. hlm. 212
[6] Ahmad Muhammad Jamal, Membuka Tabir; Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam, (Bandung: CV. Diponogoro, 1991). hlm. 324
[7] Malki Ahmad Nasir, Orientalis dan Sirah Nabi Muhammad SAW; Sketsa Awal, Islamia: Kerancuan Orientalis dalam Kajian Islam, (Jakarta: Khairul Bayan, 2006). hlm. 75
[8] Ahmad Muhammad Jamal, Membuka Tabir; Upaya Orientalis dalam Memalsukan Islam, (Bandung: CV. Diponogoro, 1991). hlm. 419
[9] Ibid. hlm. 503

1 komentar:

Uung Supratman mengatakan...

Assalamu Alaikum, bagaimanapun selalu ada argumentasi menentang kebenaran kapanpun dan di manapun, tetapi sekarang kenyataannya di Eropa maupun di Amerika kebenaran Islam bisa diterima oleh semakin banyak orang terpelajar, mungkin tinggal dilihat statistiknya(!).

Poskan Komentar